Ditulis oleh: Darwis Alfonsus pada blog pribadi dengan judul “Musik Tradisi Dayak Laor” | Diperbaharui oleh tim editor untuk keperluan publikasi di website Babantant Kamponk 2025
Musik tradisi merupakan bagian penting dari identitas budaya yang lahir dan berkembang dalam suatu komunitas, diwariskan secara turun-temurun sebagai warisan tak ternilai.
Bagi masyarakat Dayak Laor—yang kini dikenal pula sebagai Dayak Lawank di wilayah Desa Sepotong, Kecamatan Sungai Laur—musik tradisional tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi telah menyatu dengan siklus hidup mereka, dari kelahiran hingga kematian.
Dalam masyarakat Dayak Laor, musik tradisi memiliki fungsi ritual, sosial, dan spiritual. Ia dimainkan dalam berbagai momen sakral dan meriah, menjadi jembatan antara manusia, alam, dan yang Ilahi.
Secara umum, musik tradisional Dayak Laor diklasifikasikan ke dalam dua kategori besar: musik untuk gawai idup (upacara kehidupan atau kesukacitaan) dan musik untuk gawai kamati-kalosi (upacara kematian atau kedukaan).
Bagamal: Kata bagamal berasal dari dua kata: ba (berarti “memainkan”) dan gamal (seperangkat alat musik tradisional mirip gamelan). Dalam praktiknya, bagamal mencakup penggunaan alat musik seperti kenong (anak gamal), bebondi, gendang, gong (ketawak), saron, dan ogong induk/anak. Musik ini menjadi inti dalam berbagai upacara: pernikahan, penyambutan tamu, ritual bersih kampung, pemberian nama bayi (nsilong), syukuran, dan nyapat tahun (penutupan tahun adat).
Menariknya, meskipun termasuk musik untuk gawai idup, bagamal juga berfungsi lintas-ritual. Ia dapat dipakai dalam konteks kedukaan seperti babukongk (acara kematian), nyandongk (pembakaran tulang-belulang), nambak (renovasi kuburan), atau mindah tulang garak (pemindahan kerangka).
Nganjan: Musik nganjan merupakan pelengkap dari bagamal, dimainkan dalam suasana sukacita dan hiburan (berdondoi). Jenis-jenis nganjan antara lain: sangiang buronk, tari rambai, dan kaseh sayang. Alat musiknya mencakup anak gamal, ketawak anak, ketawak induk, ogong anak, ogong induk, dan gendang panjang. Setiap jenis nganjan memiliki irama dan gerak yang khas, menjadi ruang ekspresi seni dan identitas kolektif masyarakat.
Gondang Allah: Musik ini dimainkan sebagai pembuka sebelum bagamal, biasanya dalam konteks persiapan sebuah acara besar (ari karejo). Alat musik yang digunakan adalah ketawak, gendang anak, gendang kait, dan gendang induk. Nama “gondang allah” sendiri mencerminkan nilai spiritual dan harapan akan perlindungan serta kelancaran acara.
Baliant: Baliant merupakan musik yang digunakan dalam upacara penyembuhan atau pengobatan tradisional oleh seorang baliant (dukun). Alat musiknya sederhana, terdiri dari ketawak dan gendang, namun berfungsi sebagai pengantar mantra dan kekuatan penyembuh melalui irama dan vibrasi yang sakral.
Gondang Perang: Sebagaimana namanya, musik ini mengiringi tari silat atau bunga, sebuah tarian bela diri tradisional. Alat musik utamanya adalah ketawak dan gendang, yang dimainkan dengan ritme dinamis untuk membangun semangat dan kekuatan dalam gerakan tari.
Musik tradisi Dayak Laor bukan hanya sekadar bunyi-bunyian, melainkan bagian dari tatanan hidup dan kosmologi budaya mereka. Dalam setiap dentang ketawak atau ketukan gendang, tersimpan nilai, doa, cerita, bahkan identitas kolektif yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam semangat pelestarian budaya yang diusung oleh Babantant Kamponk, musik-musik tradisi yang sesuai penting untuk ditampilkan, dipelajari kembali, dan dihidupkan dalam ruang perayaan dan refleksi budaya.
Inilah momen untuk kembali menyatu dengan akar—melalui nada-nada yang dahulu menghidupkan kampung, dan kini, menghidupkan kembali ingatan kita akan kampung.
Satu komentar tentang “Bagamal hingga Baliant: Warisan Musik Tradisional Dayak Laor”