Ditulis oleh: Videlis Aldolp
Diperbaharui oleh tim editor untuk keperluan publikasi di website Babantant Kamponk 2025
Ngkunjau merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Dayak Lawank (dikenal sebagai Dayak Laor), yang tergolong dalam bentuk kesenian dan sastra lisan daerah.
Tradisi ini tidak sekadar nyanyian, tetapi merupakan media untuk menyampaikan pesan-pesan hati—baik dalam suka maupun duka. Liriknya sarat makna dan dinyanyikan dengan alunan nada yang merdu, menghadirkan keindahan yang menyentuh jiwa.
Dahulu, ngkunjau kerap terdengar dalam berbagai upacara adat, terutama dalam pesta pernikahan. Tradisi ini dikenal pula dengan sebutan nembang, yakni seni melantunkan pantun berirama yang menggambarkan perasaan terdalam penembang.
Nembang biasanya diiringi oleh gamal, alat musik tradisional Dayak yang menjadi elemen penting dalam prosesi adat pernikahan. Kata-kata dalam ngkunjau diambil dari pantun yang disusun berdasarkan suasana hati sang penyanyi.
Tak hanya dalam pesta pernikahan, ngkunjau juga dahulu akrab terdengar di tengah suasana santai saat masyarakat Dayak Lawank menikmati tuak pincor dalam acara mulang gurau—sebuah momen kebersamaan yang penuh canda dan keakraban. Sayangnya, hari ini ngkunjau sudah sangat jarang terdengar, bahkan nyaris menghilang dari ruang budaya masyarakat.
Sebagai ekspresi dalam masyarakat komunal, ngkunjau memiliki banyak fungsi. Ia menjadi sarana mempererat hubungan sosial, menyapa seseorang dengan ungkapan hati, menyatakan cinta dan kasih sayang, hingga menjadi alat hiburan, sindiran, dan perenungan.
Keindahan ngkunjau bukan hanya pada nadanya, melainkan juga pada nilai-nilai yang dikandungnya.
Ada sebuah kisah menarik dari masa lalu: konon, seorang pemuda yang mahir ngkunjau lebih mudah merebut hati batinok daro (gadis). Ngkunjau menjadi modal utama dalam proses ngantok batinok (mendekati seorang gadis) hingga menjalin hubungan yang berujung pada pernikahan.
Dalam budaya saat itu, kepekaan rasa dan kepiawaian dalam menyusun pantun yang dilantunkan lewat ngkunjau menjadi tanda kedewasaan dan keluhuran budi.
Lebih dari itu, ngkunjau juga dilantunkan di ladang padi. Tujuannya? Untuk menghibur tanaman agar tumbuh subur. Di antara hamparan padi yang bergoyang ditiup angin, suara ngkunjau menciptakan kedamaian yang menyatu dengan alam.
Selain sebagai ungkapan hati, ngkunjau juga mengandung doa dan harapan kepada Sang Pencipta, sesuai dengan lirik-lirik yang dilantunkan.
Kini, semangat pelestarian budaya seperti ngkunjau kembali dihidupkan melalui kegiatan budaya seperti Babantant Kamponk, yang menjadi ruang perjumpaan masyarakat adat untuk kembali merayakan akar identitas mereka.
Di momen inilah, kita diajak untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga menghidupkan kembali warisan-warisan luhur seperti ngkunjau agar tetap hidup dan bermakna lintas generasi.
Kilik-kulu ngayoh para’u
Ondak mangilau sibatang marau
Sungguh sedih hati ku pilu’
Nak ningo urang babalas ngkunjau