Desa Sepotong, 2025 — Di jantung Kalimantan Barat, tepatnya di desa Sepotong, Kecamatan Sungai Laur, hidup masyarakat Dayak yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Salah satu tradisi yang terus dilestarikan hingga kini adalah “Napuk Tuak”, yaitu proses pembuatan tuak secara gotong royong—minuman tradisional yang sakral dalam setiap upacara adat Dayak.
Napuk Tuak bukan sekadar membuat minuman. Ia adalah simbol kebersamaan dan penghormatan pada adat.
Menjelang acara besar seperti Gawai Dayak Babantant Kampong, seluruh warga—lelaki, perempuan, tua dan muda—bergotong royong menyiapkan bahan-bahan utama: beras ketan, ragi, dan air bersih.
Beras ketan yang telah dikukus kemudian dicampur dengan ragi. Proses ini dilakukan dengan penuh perhatian, karena kualitas tuak bergantung pada kesabaran dan ketelitian.
Adonan kemudian dimasukkan ke dalam tempayan, wadah besar yang menjadi simbol kekayaan budaya Dayak.
Tempayan-tempayan ini akan disimpan selama beberapa minggu hingga tuak mencapai rasa dan kekuatan yang pas.
Dalam tradisi Dayak, tuak bukan hanya minuman—ia adalah sarana pemersatu, simbol kehidupan, dan wujud syukur kepada leluhur dan alam.
Pada saat Gawai Dayak Babantant Kampong, tuak disajikan sebagai bagian dari ritual adat, sebagai penghormatan terhadap roh leluhur dan sebagai lambang keberkahan bagi kampung.
Mendekati hari H Gawai Dayak Babantant Kampong, tempayan-tempayan berisi tuak inas diangkat dan dibawa ke balai adat.
Warga kembali bergotong royong, mendekorasi kampung, menyiapkan tempat persembahan, dan menyambut tamu dari kampung sekitar.
Dari tempayan ke gelas, dari generasi ke generasi—Napuk Tuak adalah warisan hidup yang terus mengalir.
Di desa Sepotong, tradisi ini bukan hanya dirayakan, tetapi juga dijaga dengan cinta dan kebanggaan.
Karena di balik setiap tegukan tuak, tersimpan sejarah, kebersamaan, dan semangat gotong royong masyarakat Dayak.
“Napuk Tuak bukan hanya tentang minuman, tapi tentang jati diri.”