Ketapang, Kalbar – Menjelang penyelenggaraan Babantant Kamponk 2025, perhatian masyarakat adat Dayak dan pecinta budaya tradisional tertuju pada Desa Sepotong. Terletak di Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, desa ini menjadi tuan rumah perhelatan budaya terbesar Dayak Lawank yang akan digelar pada 26–28 Juni 2025.
Desa Sepotong adalah salah satu desa adat Dayak Lawank—subsuku Dayak yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Dayak Laor. Masyarakatnya dikenal teguh menjaga adat, dengan kehidupan sosial yang erat dan penuh semangat gotong-royong.
Secara geografis, Sepotong terletak tidak jauh dari jalur Jalan Trans-Kalimantan dan dapat dijangkau melalui jalur darat dari Pontianak maupun dari pusat Kota Ketapang. Dari Sungai Laur—ibu kota kecamatan—jaraknya sekitar 16 km atau sekitar 30 menit perjalanan menggunakan kendaraan roda dua atau mobil.
Sebagian besar penduduk Desa Sepotong menggantungkan hidup dari pertanian, khususnya karet, kelapa sawit, dan hasil hutan non-kayu seperti rotan dan tanaman obat. Selain sektor pertanian, masyarakat juga aktif mengembangkan kerajinan tangan, seperti anyaman—yang kerap ditampilkan dalam acara budaya.
“Desa kami memang belum memiliki banyak fasilitas modern, tapi kami punya warisan budaya yang sangat kami jaga. Inilah yang menjadi kekuatan kami,” ungkap salah satu warga Desa Sepotong yang namanya tidak mau disebutkan.
Fasilitas publik di desa ini mencakup balai desa, sekolah dasar, posyandu pembantu, air bersih, dan listrik. Meskipun akses ke layanan kesehatan lanjutan harus dilakukan di Sungai Laur atau Ketapang, kehidupan masyarakat di Desa Sepotong tetap berjalan harmonis dengan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebagai “tuan rumah abadi” Babantant Kamponk, Desa Sepotong bersiap menyambut ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Selain menyuguhkan ragam pertunjukan adat dan kuliner khas, tuan rumah juga berupaya menjadikan ritual ini sebagai sarana memperkenalkan identitas dan kekuatan budaya Dayak Lawank kepada dunia luar.
“Ini bukan sekadar festival. Ini pertemuan leluhur, pewarisan semangat, dan momentum membangun kebanggaan,” tutur salah satu panitia Babantant Kamponk 2025.
Dengan alam yang asri, masyarakat yang bersahaja, serta budaya yang kaya, Desa Sepotong menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan seiring dengan keterbukaan terhadap dunia luar. Ritual Babantant Kamponk 2025 bukan hanya menjadi milik Dayak Lawank, tapi juga panggung kebudayaan Kalimantan Barat di tingkat nasional.